Peran Kota Gede Sebagai Ruang Edukasi Budaya Bagi Masyarakat

Authors

  • Pradita Wahyu Septina UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Usup Maulana Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Ubayyinun Naja Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Widya Nur Mahmudah Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Siti Badriatul Masruroh Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Yogi Febriana Nurkholifah Kholifatul Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Deny Joko Saputro Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
  • Nastiti Mufidah Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

DOI:

https://doi.org/10.51311/nuris.v13i1.1428

Keywords:

Cultural heritage, cultural education, kotagede, cultural identity, society

Abstract

                                                                     Abstract

This study aims to analyze the role of the Kotagede area as a cultural education space for the community and identify the educational values ​​​​in it. The background of this study is based on how important cultural preservation is in the current era that has the potential to shift local identity, as well as the less than optimal use of cultural areas as a learning tool. Kotagede as the former capital of the Islamic Mataram Sultanate has various cultural assets such as the Mataram Grand Mosque, the royal tomb complex, and traditional houses that are closely related to the lives of the community, so it has the potential to become a learning space based on direct experience. The results of the study show that Kotagede is not only used as a tourist spot, but also as a dynamic cultural education space. The learning process is carried out through direct experience, both through interaction with tour guides of Kotagede's historical sites, observation activities of cultural activities such as silver craftsmen, as well as involvement and life of the local communityThis ensures the continued transmission of cultural values ​​in everyday life. Furthermore, the educational value of the Kotagede area encompasses historical, social, economic, and local religious aspects, contributing to the formation of cultural identity and community character. The activities not only provide knowledge but also instill values ​​such as cooperation, tolerance, and appreciation for cultural heritage. However, the utilization of Kotagede as a cultural education space is still optimal, some visitors tend to view this area only as a tourist attraction without looking for the educational meaning that exists. This could potentially reduce the educational function of the area if no balanced management efforts are made. Therefore, strategic steps need to be taken by increasing public awareness, knowledge of the role of local communities, and the development of cultural-based educational programs so that the learning function can run optimally and maximally. Through various activities such as educational tours, craft workshops, and local historical experiences, people can more easily understand and absorb these cultural values. The role of the younger generation is also very important in this regard, because they are the successors who will preserve culture in the future. With the active involvement of various parties, the educational function of the Kotagede area is not only maintained but can also develop according to the needs of the times. Thus, Kotagede not only functions as a cultural heritage preservation area, but also as a real social learning space. The existence of Kotagede is able to connect past values ​​with the lives of today's society, so that it can strengthen cultural identity in the midst of the era of globalization that continues to develop. Therefore, directed and collaborative management is needed so that the benefits of the Kotagede area can be felt by both local people and visitors.

Keywords: Cultural heritage, cultural education, Kotagede, cultural identity, society

                                                                    Abstrak

 Penelitian Ini bertujuan untuk menganalisis  peran kawasan Kotagede sebagai ruang edukasi budaya bagi masyarakat.dan mengidentifikasi  nilai nilai edukatif yang  ada di dalamnya.Latar belakang penelitian ini berdasarkan pada seberapa penting pelestarian budaya di era sekarang yang berpotensi bisa menggeser identitas lokal,serta kurang optimalnya pemanfaatan kawasan budaya sebagai sarana pembelajaran.Kotagede sebagai bekas ibu kota ksultanan Mataram Islam memiliki berbagai aset budaya seperti Masjid Gede Mataram,Komplek makam raja,dan rumah  tradisional yang  berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat,sehingga berpotensi menjadi  ruang belajar  yang berbasis pengalaman langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Kotagede tidak hanya dijadikan sebagai tempat wisata,tetapi juga  sebagai ruang edukasi budaya yang dinamis.Proses pembelajaran dilakukan melalui pengalaman langsung,baik  melalui interaksi dengan tour guide situs bersejarah Kotagede,aktivitas pengamatan aktivitas Budaya seperti pengrajin perak,maupun keterlibatan dan kehidupan masyarakat setempat.Hal ini menjadikan pewarisan  nilai nilai budaya dapat berkelanjutan  dalan kehidupan  sehari hari. Selanjutnya nilai edukatif yang ada di kawasan Kotagede mencakup aspek histori,sosial,ekonomi dan keafiran lokal yang turut berkontribusi  dalam pembentukan identias budaya dan karakter masyarakat.Aktivitas yang berlangsung tidak hanya memberikan pengetahuan ,tetapi  juga menanamkan nilai nilai seperti kerja sama, toleransi dan  pemghargaaan teehadap warisan budaya. Tetapi,pemanfaatn Kotagede sebagai ruang edukasi budaya masih optimal sebagian pengunjung  cenderung memamndang kawasan ini hanya sebagai objek wisata tanpa mencari makna edukatif yang ada.hal ini bisa berpotensi menngurangi fungsi edukasi  kawasan  apabila  tidak dilakukan upaya pengelolaan yang seimbang.oleh karea itu langkah strategis perlu dilakukan dengan cara  penginkatan kesadaran masyarakat,pengetahuan peran komunitas lokal,dan pembangunan  program edukasi yang berbasis budaya agar fungsi pembelajaran  dapat berjalan secara optimal dan maksimal.Melalui berbagai kegiatan seperti wisata edukasi,patihan kerajinan,dan pengalaman sejarah lokal masyarakat bisa lebih mudah memahami dan menyerap nilai nilai budaya tersebut.peran generasj muda juga sangat penting dalam hal ini,karena mereka merupakan penerus yang akan melestarikan  budaya di masa mendatang.Dengan adanya keterlibatan aktif dari berbagai pihak ,fungsi edukatif kawasan Kotagede tidak hanya sekedar tetap terjaga tetapi juga dapat berkembang  sesuai dengan kebutuhan zaman.Dengan demikian Kotagede tidak hanya berfungsi sebagai kawasan pelestarian warisan budaya,tetapi juga sebagai ruang pembelajaran  sosial yang nyata. keberadaan Kotagede mampu menghubungkan  nilai nilai masa lampau dengan kehidupan masyarakat  masa kini,sehingga dapat memperkuat identitas budaya di tengah era globalisasi  yang twrus berkembang.Oleh karena itu pengelolaan yang terarah dan kolaboratif diperlukan  agar manfaat dari kawasan Kotagede dapat dirasakan secara masyakarat setempat maupun pengunjung .

Kata Kunci: Cagar budaya,Edukasi budaya,Kotagede,Identitas budaya,Masyarakat

Downloads

Download data is not yet available.

References

Daftar Pustaka

Ainil Fhadilah, Ulfa Adilla, Sonia Yulia Friska, Dewi Sara, S. (2026). IMPLEMENTASI ISLAMIC ENTREPRENEURSHIP MELALUI MANAJEMEN PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU. 11.

Ajie, Refa Kurniawan, & Rahmi, Dwita Hadi. (2022). Eksistensi rumah cagar budaya dan pengaruhnya terhadap ras rung di Kotagede Yogyakarta. Jurnal Planologi 19(2), 136–150.

Badan Pusat Statistik. (2022). Statistik kebudayaan dan pariwisata DIY.

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. (2023). Profil kawasan cagar budaya Kotagede.

Fiantika, Feny Rita, et al. (2022). Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang: PT Global Eksekutif Teknologi.

Hidayat, A. (2023). Perkembangan kekuasaan Mataram Islam pada masa Sultan Agung. Jurnal Sejarah Nusantara, 8(1), 55–68.

Hidayat, Sarip, Bachtiar, Beben Muhammad, & Ardian, Rio. (2025). Memperkuat identitas nasional melalui generasi muda dalam melestarikan budaya lokal di Sanggar Astagiri Kabupaten Kuningan. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan (JUPANK), 5(2), 873–882.

Islamiyah, Zahrotun, & Segara, Nuansa Bayu. (2026). Analisis kawasan cagar budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka. Dialektika Pendidikan IPS, 5(1), 24–31.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2020). Pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber pembelajaran. Jakarta.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2024). Strategi pengembangan pariwisata budaya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2020). Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Jakarta.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2021). Laporan pelestarian cagar budaya.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kustomo, Hari, Urokhim, Auliya, & Sariban. (2022). Cagar budaya sebagai paneguhan Tuban yang multikultur. Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, 22(1), 8.

Mulyani, Petra Kristi, & Sholikha, Sofia Nafiatu. (2024). Pengembangan buku ajar keragaman budaya Kota Solo untuk materi IPS kelas IV. Jurnal Sinektik, 7(1), 112–119.

Pendit, Nyoman S. (2003). Ilmu pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita.

Prasetyo, D. (2022). Kotagede sebagai pusat awal Mataram Islam. Jurnal Pendidikan Sejarah, 6(2), 120–132.

Rahmawati, Maulida, Subroto, Wisnu, & Mardiani, Fitri. (2025). Strategi edukasi cagar budaya Kota Banjarmasin melalui digitalisasi berbasis flipbook. Jurnal Artefak, 12(1), 17.

Rahmawati, L. (2020). Konflik politik Pajang dan lahirnya Mataram Islam. Jurnal Historika, 5(1), 88–101.

Sari, M. (2021). Sejarah awal Kotagede sebagai cikal bakal Mataram Islam. Jurnal Ilmu Sejarah, 7(2), 101–115.

Soekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi suatu pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Tjandrasasmita, Uka. (2015). Pelestarian benda cagar budaya dan pemanfaatannya bagi pembangunan bangsa. SUHUF: Jurnal Pengkajian Al-Qur’an dan Budaya, 3(1), 133–143.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Universitas Gadjah Mada. (2019). Kotagede sebagai kawasan heritage dan edukasi masyarakat. Jurnal Pariwisata.

UNESCO. (2020). Culture and sustainable urban development report.

Zulkarnain, Riswan. (2025). Melestarikan budaya leluhur oleh generasi muda. JKA, 2(1), 1–8.

Downloads

Published

2026-04-19

How to Cite

Septina, P. W., Maulana, U., Naja , U., Mahmudah , W. N., Masruroh, S. B., Nurkholifah Kholifatul , Y. F., Saputro, D. J., & Mufidah, N. (2026). Peran Kota Gede Sebagai Ruang Edukasi Budaya Bagi Masyarakat. NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan Dan Sosial Keagamaan, 13(1), 263–283. https://doi.org/10.51311/nuris.v13i1.1428